Rabu, 23 Juni 2010
kata-kata yang terucapkan
pantasnya kuarahkan pada diri
kalimat demi kalimat meluncur
aku melacurkan diri
memaki-maki
mengumpat

ah, terasa kegelisahan itu ada
kecemasan
ketakutan
hadirnya mereka dapat kuraba

seorang diri
walau tak slalu begini
semua harus kuhadapi

terngiang-ngiang ucapannya
tuk menghadapi semua dengan gegap gempita
dunia tak butuh manusia cengeng
ia berkata
setelah ikut latihan sight culturing di bawah bimbingan ibu Norma, saya jadi mulai meneliti tentang apa saja pandangan-pandangan yang ada pada saya yang tidak tepat.

Sight culturing adalah salah satu latihan meditasi dinamis ananda yang diciptakan dan dikembangkan oleh Bapak Anand Krisha. Pada sesi tersebut, latihan dimaksudkan untuk memperbaiki cara pandang dalam hidup.

Ibu Norma membukanya dengan memberikan prakata awal bahwa pandangan bisa menjadi massalah yang dapat menimbulkan stress. Beliau juga menuturkan beberapa pandangan tersebut. hal-hal tersebut memang banyak sekali kita jumpai di kehidupan sehari-hari dan sepertinya memang suatu keharusan atau sudah dari sononya seperti itu.

Berikut adalah pandangan-pandangan sudah kadung memasyarakat.

- Seorang wanita bila sudah memasuki usia tertentu, maka haruslah menikah. Ini seringkali menjadi masalah manakala sang orang tua menuntut anaknya harus melakukan hal tersebut. bahkan tak jarang pula para orang tua menentukan pasangan bagi anak-anaknya yang hanya menjadi beban tambahan bagi para anak. Bahkan seorang teman menambahkan bahwa di daerah pedesaan, seorang anak gadis di mata masyarakat harus menikah meski beberapa minggu kedepan langsung cerai yang penting sudah pernah nikah. ???

- Orang yang memiliki tattoo di tubuhnya diasosiakan sebagai mantan napi alias criminal alias orang jahat. Walaupun kini kian banyak yang mentattoo bagian tubuh mereka, namun pandangan tersebut tidaklah hilang begitu saja. Memang kini tattoo menarik banyak orang dengan alasan sebagai sebuah seni. Dan tak sedikit pula para wanita yang rela bagian tubuhnya di tattoo.

- Seseorang yang beragama tertentu tidak berkenan minum ataupun makan di tempat seseorang yang tidak seagama dengannya. Repot kan? Betapa sempitnya pergaulannya.

Dan masih banyak lagi dan lagi dan lagi.


Terimakasih Bapak Anand Krishna, ibu Norma dan teman-teman di Anand Ashram.

Salam
Senin, 21 Juni 2010
Hari minggu yang lalu, saya pergi ke pasar kebayoran lama membeli jamu godogan yang memang rutin saya lakukan hampir tiap bulan. Dan pada saat yang bersamaan saya juga membeli hio wangi ( dupa ) di tempat lain tentunya.

Ketika sedang berbincang-bincang dengan ibu pemilik toko jamu, seorang pembeli lainnya melihat hio wangi yang saya bawa. Lalu dia bertanya untuk apa hio itu? Saya menjawab untuk mengharumkan ruangan. Dia berkata bahwa menurut orang-orang membakar hio bertujuan untuk mengundang setan atau jin atau mahluk halus lainnya. Saya memberikan pandangan bahwa itu tergantung niat, bila membakar hio dengan niat mengundang mahluk halus, maka mahluk2 itu akan datang. Dia kemudian berkata bahwa niat adanya di hati dan orang tidak tahu. Saya pun berkata memang demikian, yang bersangkutanlah yang mengetahui apa niat dibalik setiap perbuatan dan tak perlu memusingkan perkiraan orang lain mengenai yang kita lakukan. Bila memang perbuatan kita dilandasi niat yang baik, maka go ahead.

Dan percakapan pun berakhir.

Dalam perjalanan ke rumah, saya merenung mengenai apa yang saya ucapkan pada orang itu. Semua tergantung pada niat seperti yang termaktub dalam sebuah hadist: setiap amal perbuatan tergantung niatnya.

Terimakasih wahai Keberadaan telah mengingatkan saya mengenai hal yang paling utama, yakni sebuah niat.

About Me

Foto Saya
Satria
Do good because you're good...
Lihat profil lengkapku

Pengikut

My favourite books

  • Gita management
  • dongeng by H.c andersen
  • Indonesia under attack
  • Sehat dalam sekejap
  • Shalala
  • Shangrila
Powered By Blogger
Diberdayakan oleh Blogger.